MENJADI LEBIH DARI ADANYA
Oleh: Ahmad Mahalli*
WAKE UP!! Manusia dititahkan Allah Ta`ala sebagai khalifah fil ardl. Manusialah yang menentukan kebaikan dan kerusakan bumi ini. Sehingga manusia disuruh untuk memilih apa yang mereka kehendaki. Baik atau buruk, kaya ataukah miskin, bahagia ataukah sengsara. Semua itu bergantung pada kemauan dan usaha kita untuk mendapatkannya, disamping Takdir Allah Ta`ala lah yang menentukan segalanya.
Oleh sebab itu, hidup tidak sekedar apa adanya apalagi mengada-ada. Hidup merupakan proses yang memerlukan sebuah perjuangan. Berjuang mengais secuil roti untuk tetap bertahan hidup. Berjuang memilih kehidupan yang baik dan yang lebih baik. Kadang-kadang perjuangan juga memerlukan pengorbanan. Tak cukup perjuangan meraih kehidupan terbaik tanpa mengorbankan tenaga, pikiran dan waktu . Namun sekalipun begitu, banyak yang menganggap pengorbanan adalah hal yang percuma dan hanya membuat sengsara. Maka dari itu, perjuangan dan pengorbanan harus berlandaskan motivasi. Dengan motivasi, perjuangan dan pegorbanan yang kita lakukan terasa mudah dan tidak menjadi beban. Malah hal itu menjadi pelecut semangat demi mendapatkan suatu yang kita impikan.
Bakat hanya mempengaruhi 1 % saja atas keberhasilan. Selebihnya (99 %) adalah kerja keras yang kita lakukan. Sungguh diluar dugaan. Memang benar, Man jadda wajada. Siapa yang mencari pasti dia akan menemukan. Maka buanglah jauh-jauh rasa persimisme. Minder dengan bakat yang dimiliki. Sebab, sekalipun ia sangat berbakat dalam suatu bidang namun ia tak mau berusaha mengembangkatkan bakatnya, apa gunanya??? Yang penting kerja keras dan terus mencoba. Semakin sering gagal, semakin sering belajar, semakin matang, semakin dewasa, dan semakin dekat dengan impian.
Manusia menurut angan dan perbuatannya dibagi empat. Satu, manusia seadanya. Pasif dan pasrah menerima takdir apa adanya tanpa berusaha meraih yang lebih baik. Dua, manusia yang mengada-ada. Manusia yang ingin bertumbuh dan bertambah lebih dari sebelumnya. Sehingga ia mempunyai banyak angan dan harapan yang besar untuk meraih kesuksesan. Namun sayang, ia tidak mau berusaha dengan tindakan nyata untuk mewujudkan harapannya. Tiga, manusia yang mengada-ada. Selalu menjadikan keadaan sebagai pelampiasan kegagalan dan kekalahan tanpa disertai adanya perbaikan diri. Empat, manusia yang lebih dari adanya. Selalu proaktif demi perubahan yang lebih baik. Senantiasa bertumbuh dan bertambah. Termasuk yang manakah kita? Bergantung pada diri kita sendiri. Ingin ajeg dengan keadaan yang sengsara ataukah berusaha dengan tindakan nyata untuk meraih kesuksesan.
Cara memandang juga merupakan kunci menuju masa depan yang gemilang. Jika kita menengok orang-orang sukses dalam bidangnya, sudut pandang juga ikut andil besar dalam menentukan kesuksesan. Mereka tidak memfokuskan pandangan pada kegagalan. Melainkan lebih memusatkan pikiran pada keberhasilan. Mereka tidak mencari-cari “kambing hitam”, namun lebih pada solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Tak hanya itu, mereka juga tak “mati” karena kritik. Mereka memandang kritik sebagai saran untuk hasil yang lebih baik. Walau, kadang kritik yang dialamatkan tidak sepenuhnya benar adanya. Tapi jangan juga memfonis pengkritik adalah musuh. Karena justru orang yang sering memuji, diam-diam malah membunuh karakter kita.
Dalam meraih kesuksesan tak lepas dari konflik. Karena konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Ada yang sengsara karenanya dan ada juga yang bahagia sebab bisa mengambil hikmah darinya. Maka anggaplah konflik sebagai bumbu masak yang lebih berasa sedap bila diolah dengan benar sesuai resepnya. Jika sedang berkonflik hendaklah memastikan dahulu akar permasalahannuya. Cari tahu informasi akurat mengenai hal itu dan mengapa bisa terjadi? Disamping itu, fokuskan diri bukan pada orangnya, melainkan pada perbuatannya. Sebab yang keliru adalah tindakannya, tidak orang yang melakukannya. Setelah cara pandang kita diubah sedemikian itu, mulailah mencari solusi terbaik. Bicarakan baik-baik langsung pada orangnya atau melalui teman sehingga yang bersangkutan tidak merasa ewoh dan dirugikan. Jangan paksa orang lain memahamimu, tapi paksalah diri sendiri untuk memahami orang lain.
Sudah siapkah berubah??? Mulailah berjuang untuk perubahan dari sekarang, dari yang kecil dan dari diri kita sendiri. Jika bukan kita, Siapa lagi? Jika tidak sekarang, Kapan lagi? Jika bukan jalan ini, Jalan yang mana lagi?
Setelah bekerja keras dan terus berusa untuk yang lebih baik, jangan sampai lupa dengan takdir illahi. Serahkan semua urusan kepada-Nya setelah kita berusah sekuat tenaga. Sehingga kita tidak merasa terlalu kecewa apalagi stres jika impian kita tak kunjung terwujud. Mungkin Allah Ta`ala telah menyiapkan sekuksesan yang lain buat diri kita. Waallahu A`lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar