Barokah Kitab Salaf
Matahari mulai menampakkan sinarnya. Di pagi itu, burung-burung kecil berkicauan beterbangan di antara pepohonan. Pun begitu, dedaunan terus bersenandung menasbihkan mutiara kalimat tuhan. ”Ger..ger tangi. Wes sholat durung ger?” Tanya pelan emak. Hari-hari ini ku jalani seperti biasanya. Ku selalu bagun siang. Minimal 06.30 . “Lagi jam 05.45 kok mak….mak,” bantah ku.
Hari berganti hari. Minggu telah berlalu. Dan bulan, tahun telah berganti sesuai rotasinya. Kenakalanku semakin menjadi-jadi. Bahkan tahun ini rutinitas kenakalanku bertambah. Mencuri. Ya itulah hobi terbaruku saat ini. Pernah suatu ketika aku diajak bermain temanku. Syukron namanya. Ia duduk sekelas sama aku. “Dolan yok,” ajaknya. “Neng ndi?” Tanyaku ragu. “Wes tah ayo melu,”paksanya. Aku hanya bisa mengiyakan ajaknnya itu. Setelah berjalan hampir 50 m an, ternyata ia mengajakku mencuri mangga milik tetangga dekat rumahnya. Memang benar sih, pemilik mangga tersebut agak pelit, tapi apakah memang begini cara untuk menyadarkannya. Batinku saat itu. Ya sudahlah kali ini saja kok. Gak papa. Ku langsung makan mangga itu setelah mengambil paksa dari pohonya. Itulah pengalaman pertamaku mencuri. Ku hanya bisa berucap Innii Akhoofullah. Ya Allah semoga Engkau memaafkan perbauatanku. Pintaku saat itu.
Mulai dari itu aku sering coba-coba mencuri. Dan akhirnya ketagihan juga. Bahkan lambat laun ku tak lagi merasa berdosa jika melakukan hal itu. Mulai mencuri buah, sandal hingga menjambret tas dipasar pun pernah ku lakoni. Suatu hari aku berkeingianan untuk mencuri di pondok. Mungkin pikiranku saat itu, banyak barang-barang berharga, apalagi ditanggal-tanggal muda seperti saat itu. Pasti banyak santri yang baru dapat kiriman dari orang tuanya. Jauh-jauh hari sudah ku rencanakan. Bagaimana prosedur mulai ku bergerak menjalankan misiku nanti. Lewat pintu mana, apa saja yang akan ku curi sudah ku planing matang.
Tiba saatnya hari itu. Ku mulai berjalan pelan menuju pondok itu. Mungkin jarak dari rumahku sekitar 100 m an. Pondok Darun Najah namanya. Pondok yang bernasib malang karena menjadi saksi bisu kenakalanku. Selangkah demi langkah ku gerakkan kaki ku ini menuju pondok itu. Ku buka pelan-pelan daun pintu gerbang itu. Mataku terus mengawasi kanan kiri. Beruntung dugaanku tepat. Ku beraksi saat jam kegiatan. Jadi pondok sepi. Tak ada satu pun santri yang masih diluar. Semuanya berkumpul di Auditorium. Pengajiannya Pak Kyai mungkin.
Ku Segera masuki kamar paling depan. Sandal mulai kulepas. Dari kiri tentunya. Ku pandangi seisi ruangan yang agak sempit itu. Ya mungkin hanya dua kali besarnya dengan kamarku. Ku dapati beberapa kotak berjajar rapi. Kira-kira ukaran per kotaknya 30 cm an. Setelah ku dekati ternyata semuanya di gembok rapi. Tinggal kotak-kotak yang ada diatasnya yang terbuka. Karena memang kotak-kotak itu tak ada daun pintunya. Satu persatu ku geledah. Sempat ku temumukan sebungkus rokok di kotak paling pojok. Ku langsung melangkah untuk mengambilnya. Setelah ku buka ternyata tak ada sebatang rokok pun di bungkus rokok itu. “Sialan, emang dasar santri gak punya apa-apa,” batinku saat itu. Hampir 10 menit aku di kamar itu. Namun belum kudapati barang berharga yang bisa ku bawa pulang. Ku terus menggeledah.
Mataku tertuju pada beberapa kertas bertuliskan arab. Kuning warnanya. Ku pelototi dan membolak-balik sampulnya. Sedikit demi sedikit ku mulai mengeja nama kitab itu. “Oh ini tho kitab yang sering digunakan para santri untuk mengaji,” batinku. Mungkin itulah yang namanya kitas salaf. Ku lebih suka menamainya kitab salaf dari pada kitab kuning. Mungkin karena kuning lebih identik dengan warta kotoran manusia. Mungkin. Lalu ku buka lembaran itu. Ku mencoba untuk membacanya. Namun, memang dasar namanya maling, mana mungkin bisa membacanya.
Hari pun hujan. Awan mendung hitam pekat menyelimuti langit saat itu. Tetes demi tetes air berjatuhan. Aku semakin gusar. Tak satupun barang barharga kuambil. Hanya beberapa kitab yang kuambil tadi. Pengajian di Auditorium pun kelihatannya hampir usai. Aku makin was-was. Rasa takut begitu menyelimuti hatiku. Takut dipergoki para santri. Saat itu juga, tanpa berfikir panjang, langsung kubawa apa yang yang ada di depanku. Langsung ku terobos hujan deras yang terus mengguyur tubuhku. Ku meloncat, melewati gerbang dan terus berlari melawan derasnya hujan. Dan akhirnya Alhamdulillah sampai juga dirumah dalam keadaan selamat. Bagaimaman jika tadi aku dipergoki para santri. Bisa-bisa babak belur sekujur badanku.
Setibanya dirumah, ku taruh barang bawaanku dari pondok itu di meja kamarku. Setelah ku cek ternyata hanya beberapa lembar kertas berwarna kuning. Tak ada yang lain. Itupun telah basah kuyub terkena air hujan. Seketika itu, tanpa menenggu lama ku jemur kertas-kertas yang gak ku mengerti bacaanya itu. Ku taruh lembaran-lembaran itu di genting atap rumahku.
Ditengah tidur pulasku ku terbangun kaget. Beberapa kali tekukan pintu terdengar. Mungkin ada tamu. “Assalaamu`alaikum.......”, “Assalaamu`alaikum....,” Ku langsung bangun mendekati daun pintu dan membukanya. Belum sempat ku bertanya siapa dan dari mana asalnya, ia langsung mencium tanganku. “Pak Ustasz ini saya disuruh pak bupati untuk mencarikan pengganti guru agama buat anak beliau,” Ujarnya sopan. “Lha kenapa guru sebelumnya,” gayaku sok menyambung pembicaraannya. Padahal sangat tidak mungkin jika aku menjadi dan dipanggil Pak Ustadz. “Guru yang lama pindah rumah tadz. Dan setelah berhari-hari saya mencari guru pengganti, kebetulan saya melewati rumah ustadz ini, dan melihat banyak berjejer kertas-kertas kitab salaf, seketika itu aku langsung berpikir mungkin inilah rumah ustadz yang di tunjukkan Allah padaku.”
“Gimana tadz, bisakan besok kerumah pak lurah buat ngajar anak beliau.” Bayanganku terus tertegun mendengar pernyataan itu. Lha kok bisa orang seperti ku ini dipanggil Ustadz, batinku saat itu. “Ya langsung saja tadz, kalau Ustadz bersedia besok langsung saja datang ke pendopo kabupaten, di sana anak-anak Pak bupati termasuk anak-anak pejabat lainnya sudah siap diajar Ustadz.” Entah kenapa bibirku saat itu langsung mengiyakan saja. Tanpa memikir ke depannya bagaimana. Apa boleh buat. Pikiranku saat itu hanya bermodal nekat. “Masak nyopet saja berani nekat, di suruh jadi Ustadz kok gak berani nekat,” pedomanku saat itu. Itu saja Modalku. Nekat. Gak ada yang lain. Lha Bagaimana. Baca saja gak bisa, mana mungkin mau mengajarkannya.
Setelah tamu itu pulang, ku langsung pergi kerumah Pak Halim. Beliau adalah guruku saat aku masih kecil. Beliau lulusan pondok Sarang. Tepatnya pondok MUS. Singkatan dari Ma`hadul `Ulumisy Syar`iyyah. Tak perlu diragukan lagi kredibelitas keilmuan beliau. Tanpa ragu-ragu ku langsung bicara apa maksud tujuanku. Yakni minta diajari kitab yang besok akan ku ajarkan pada anak-anak Pak Lurah. Dan akhirnya beliau pun bersedia. Waktu ngajinya yaitu setiap hari Senin , Rabu dan Sabtu. Tepat satu hari berselang sebelum materi yang kuterima dari beliau ku ajarkan pada anak-anak Pak lurah.
Imriti, Taqrib dan juga Bad`ul Amali terus ku pelajari. Hari demi hari terus seperti itu. Menimba ilmu dulu lalu langsung mengajarkannya. Sampai berbulan-bulan dan Bertahun-tahun. Terus seperti itu. Dan akhirnya aku mulai terbiasa membaca kitab. Bahkan sampai kitab Fathul Mu`in pun ku sekarang agak bisa membacanya. Padahal mitosnya, siapa yang bisa baca kitab Fathul Mu`in serta bisa menerangkan dan mencontohkannyan, maka tak diragukan lagi kalu ia adalah kiai, penerus para Nabi. Itulah yang sering diucapkan guru-guru ku bahkan kakek-nenek ku saat aku masih kecil. Aku hanya bisa mensyukuri hal itu.
Subhaaanallah. Maha suci Allah. Begitu besar hidayah yang Engkau berikan padaku ini. Dulu maling , sekarang Ustadz. Mungkin inilah yang namanya barokah, bertambahnya suatu kebaikan. Barokah sebab ku muliakan Kitab salaf. Kitab Ulama` penuntun ummat. Ku muliakan kitab itu dengan menjemurnya diatap rumah. Tidak lantas menaruhnya dibawah atau bahkan membuangnya. Dan mungkin sebab ku jemur itulah yang malah membuat ku mendapat hidayah dan inayah Allah Subhaanahu Wa Ta`ala.
Aku berfikir. Lalu bagaimana dengan santri-santri yang setiap harinya berjibaku dengan kitab-kitab salaf dan bahkan mereka tak berani menaruh kitab di tas gendongannya. Bisa dibayangkan seperti apa kelak barokahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar