Rabu, 19 Januari 2011

MENJADI LEBIH DARI ADANYA

MENJADI LEBIH DARI ADANYA
Oleh: Ahmad Mahalli*
WAKE UP!! Manusia dititahkan Allah Ta`ala sebagai khalifah fil ardl. Manusialah yang menentukan kebaikan dan kerusakan bumi ini. Sehingga manusia disuruh untuk memilih apa yang mereka kehendaki. Baik atau buruk, kaya ataukah miskin, bahagia ataukah sengsara. Semua itu bergantung pada kemauan dan usaha kita untuk mendapatkannya, disamping Takdir Allah Ta`ala lah yang menentukan segalanya.
Oleh sebab itu, hidup tidak sekedar apa adanya apalagi mengada-ada. Hidup merupakan proses yang memerlukan sebuah perjuangan. Berjuang mengais secuil roti untuk tetap bertahan hidup. Berjuang memilih kehidupan yang baik dan yang lebih baik. Kadang-kadang perjuangan juga memerlukan pengorbanan. Tak cukup perjuangan meraih kehidupan terbaik tanpa mengorbankan tenaga, pikiran dan waktu . Namun sekalipun begitu, banyak yang menganggap pengorbanan adalah hal yang percuma dan hanya membuat sengsara. Maka dari itu, perjuangan dan pengorbanan harus berlandaskan motivasi. Dengan motivasi, perjuangan dan pegorbanan yang kita lakukan terasa mudah dan tidak menjadi beban. Malah hal itu menjadi pelecut semangat demi mendapatkan suatu yang kita impikan.
Bakat hanya mempengaruhi 1 % saja atas keberhasilan. Selebihnya (99 %) adalah kerja keras yang kita lakukan. Sungguh diluar dugaan. Memang benar, Man jadda wajada. Siapa yang mencari pasti dia akan menemukan. Maka buanglah jauh-jauh rasa persimisme. Minder dengan bakat yang dimiliki. Sebab, sekalipun ia sangat berbakat dalam suatu bidang namun ia tak mau berusaha mengembangkatkan bakatnya, apa gunanya??? Yang penting kerja keras dan terus mencoba. Semakin sering gagal, semakin sering belajar, semakin matang, semakin dewasa, dan semakin dekat dengan impian.
Manusia menurut angan dan perbuatannya dibagi empat. Satu, manusia seadanya. Pasif dan pasrah menerima takdir apa adanya tanpa berusaha meraih yang lebih baik. Dua, manusia yang mengada-ada. Manusia yang ingin bertumbuh dan bertambah lebih dari sebelumnya. Sehingga ia mempunyai banyak angan dan harapan yang besar untuk meraih kesuksesan. Namun sayang, ia tidak mau berusaha dengan tindakan nyata untuk mewujudkan harapannya. Tiga, manusia yang mengada-ada. Selalu menjadikan keadaan sebagai pelampiasan kegagalan dan kekalahan tanpa disertai adanya perbaikan diri. Empat, manusia yang lebih dari adanya. Selalu proaktif demi perubahan yang lebih baik. Senantiasa bertumbuh dan bertambah. Termasuk yang manakah kita? Bergantung pada diri kita sendiri. Ingin ajeg dengan keadaan yang sengsara ataukah berusaha dengan tindakan nyata untuk meraih kesuksesan.
Cara memandang juga merupakan kunci menuju masa depan yang gemilang. Jika kita menengok orang-orang sukses dalam bidangnya, sudut pandang juga ikut andil besar dalam menentukan kesuksesan. Mereka tidak memfokuskan pandangan pada kegagalan. Melainkan lebih memusatkan pikiran pada keberhasilan. Mereka tidak mencari-cari “kambing hitam”, namun lebih pada solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Tak hanya itu, mereka juga tak “mati” karena kritik. Mereka memandang kritik sebagai saran untuk hasil yang lebih baik. Walau, kadang kritik yang dialamatkan tidak sepenuhnya benar adanya. Tapi jangan juga memfonis pengkritik adalah musuh. Karena justru orang yang sering memuji, diam-diam malah membunuh karakter kita.
Dalam meraih kesuksesan tak lepas dari konflik. Karena konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Ada yang sengsara karenanya dan ada juga yang bahagia sebab bisa mengambil hikmah darinya. Maka anggaplah konflik sebagai bumbu masak yang lebih berasa sedap bila diolah dengan benar sesuai resepnya. Jika sedang berkonflik hendaklah memastikan dahulu akar permasalahannuya. Cari tahu informasi akurat mengenai hal itu dan mengapa bisa terjadi? Disamping itu, fokuskan diri bukan pada orangnya, melainkan pada perbuatannya. Sebab yang keliru adalah tindakannya, tidak orang yang melakukannya. Setelah cara pandang kita diubah sedemikian itu, mulailah mencari solusi terbaik. Bicarakan baik-baik langsung pada orangnya atau melalui teman sehingga yang bersangkutan tidak merasa ewoh dan dirugikan. Jangan paksa orang lain memahamimu, tapi paksalah diri sendiri untuk memahami orang lain.
Sudah siapkah berubah??? Mulailah berjuang untuk perubahan dari sekarang, dari yang kecil dan dari diri kita sendiri. Jika bukan kita, Siapa lagi? Jika tidak sekarang, Kapan lagi? Jika bukan jalan ini, Jalan yang mana lagi?
Setelah bekerja keras dan terus berusa untuk yang lebih baik, jangan sampai lupa dengan takdir illahi. Serahkan semua urusan kepada-Nya setelah kita berusah sekuat tenaga. Sehingga kita tidak merasa terlalu kecewa apalagi stres jika impian kita tak kunjung terwujud. Mungkin Allah Ta`ala telah menyiapkan sekuksesan yang lain buat diri kita. Waallahu A`lam.

Sekilas MUS-YQ

Ma’hadul ‘Ulumisy Syar’’iyyah “Yanbuul Qura`an”
Dulunya pondok ini dibangun untuk menampung anak-anak berusia 6-7 tahun yang ingin menghafal Al-Qur’an dengan kapasitas santri sekitar 60 anak. Setiap tahun semakin banyak santri yang berminat untuk mondok di pon-pes tersebut. Banyaknya santri, tentu membutuhkan tempat yang cukup untuk menampung mereka, hingga akhirnya dari pihak keluarga romo KH. Arwani Amin dibantu oleh pengurus Yayasan Arwaniyyah dalam hunting lokasi. Singkat cerita, akhirnya Beliau mendapat sebilah tanah di desa Krandon. Kemudian semua santri yang ada di Kwanaran diboyong ke desa Krandon.

Akhirnya, pondok Kwanaran mengalami empty education. Berangkat dari kevakuman itulah, pihak dari keluarga simbah Arwani ngersakno romo KH. M. Arifin Fanani untuk bermukim d Kwanaran. Pada Hari Rabu Pon, 9 Jumadil Akhiroh 1411 H/25 Desember 1990 M, Romo KH. M.Arifin Fanani resmi transit di Kwanaran. Saat itulah babak baru pondok ini dimulai (pada waktu itu belum ada namanya). Genap 5 hari, kemudian ada 5 santri yang mengaji di pondok ini hingga akhirnya santri yang mondok bertambah menjadi sekitar 25 santri. Kemudian KH. M.Arifin Fanani beserta Romo KH .Mc. Ulin Nuha Arwani, dan KH. Mc. Ulil Albab Arwani,dan KH. M.Mansur bermusyawarah dalam memberi nama pesantren tersebut.

Adalah MUS-YQ, nama yang akhirnya tersimpulkan dari hasil musyawarah tersebut. Dinukil dari kata “MUS”, yakni nama pesantren di Sarang, tempat KH. M. Arifin Fanani menimba ilmu dulu dan dari kata “YQ” (Yanbu’ul Qur’an), Sebagai qorinah, MUS-YQ juga termasuk furu’ atau cabang dari pesantren Yanbu’ul Qur’an. Hingga akhirnya pesantren ini populer dengan nama PP. MUS-YQ. Namun istilah “pondok Kwanaran”masih tetap abadi hingga kini.

Sistem pendidikan
Kegiatan pesantren ini setiap hari selalu disirami dengan kajian kitab kuning (kitab salaf). Sistem pembelajaran klasik hinggga sekarang pun masih di jalankan, seperti metode sorogan, bandongan, halaqoh, musyawarah, dan pengajian dialogis pun rutin diadakan setiap catur wulan sekali, karena semua mata pengajian yang di berikan bersifat Aplikatif, dalam arti harus diterjemahkan dengan perbuatan dan amalan sehari-hari. Adapun kitab-kitab yang di ajarkan diantaranya adalah: Sullamul Munajat, Tafsir Jalalain, Irsyadul Ibad, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Alfiyyah ibnu Malik, Lathoiful Isyarat, Fathul Jawad, Ta’limul Muta’allim, Muroqil Ubudiyyah, dll.
Untuk mengasah skill individu santri yang berbakat, setiap Sabtu sore diadakan bimbingan kaligrafi yang diasuh oleh Ust. H. Noor Syukron (diikutkan jadwal Madrasah Diniyyah) dan pada malam rabu diadakan seni baca Al-Qur’an yang dibimbing oleh Ust. Hilal Haidar. Di antara asatidz yang mengajar di pesantren MUS-YQ ini adalah: Ust. A.Subhan, Ust.H. A. Muttaqin,Ust. Zainuddin, Ust. Wahid Amrullah, Ust. A.Irham Anwari, Ust. M.Ismail, Ust. Masruchin, Ust. Mudloffar, Ust. Yasin Yusuf dan Ust. Zabur Malik.

A. Kegiatan Harian,
 Musyafahah Al-Qur’an ba’da Subuh.
 Pengajian kitab ba’da Maghrib
 Madrasah Diniyyah ba’da Ashar
 Tikror Al Fiyyah setiap ba’da jama’ah sholat Ashar dan Isya’
 Sorogan Kitab (dibimbing Asatidz dan santri-santri senior)
 Musyawarah kitab (usai makan malam, sesuai tingkatan santri)
B. Kegiatan Mingguan,
 Seni baca Al-Qur’an (dibimbing Ustadz Hilal Haidar, muadzin Masjid Menara Kudus)
 Majlis Malam Jumu’ah (Maulid al Berzanji, Simthud Duror)
 Ziarah Makam KH. M.Arwani Amin, KH. Muhammad Abu Amar, KH. Mansur, dan Mbah Wanar
 Muhafadloh Al Fiyyah
 Suplemen Les (bagi kelas 3 MTs dan 3 MA)
C. Kegiata Bulanan,
 Mujahadah atau Istighotsah
 Pengajian Dialogis (mengenai Fiqh Ubudiyyah)
D. Kegiatan Tahunan,
 PHBI (Perayaan Hari Besar Islam)
 Haul Simbah KH. M. Arwani Amin
 Haul Syaikh Ibnu Malik (Mushannif Khulashoh Al Fiyyah)
 Khataman Al-Qur’an
 Bahtsul Masa’il Intern
 Bahtsul Masa’il Ekstern (bila memungkinkan)
 Seminar Intern (Halaqoh)

Demikian sekilas tentang Ma’hadul Ulumisyar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUS-YQ) dalam bidang pendidikan. Semoga bermanfaat.

Cerpen inspiratif,

Barokah Kitab Salaf

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Di pagi itu, burung-burung kecil berkicauan beterbangan di antara pepohonan. Pun begitu, dedaunan terus bersenandung menasbihkan mutiara kalimat tuhan. ”Ger..ger tangi. Wes sholat durung ger?” Tanya pelan emak. Hari-hari ini ku jalani seperti biasanya. Ku selalu bagun siang. Minimal 06.30 . “Lagi jam 05.45 kok mak….mak,” bantah ku.
Hari berganti hari. Minggu telah berlalu. Dan bulan, tahun telah berganti sesuai rotasinya. Kenakalanku semakin menjadi-jadi. Bahkan tahun ini rutinitas kenakalanku bertambah. Mencuri. Ya itulah hobi terbaruku saat ini. Pernah suatu ketika aku diajak bermain temanku. Syukron namanya. Ia duduk sekelas sama aku. “Dolan yok,” ajaknya. “Neng ndi?” Tanyaku ragu. “Wes tah ayo melu,”paksanya. Aku hanya bisa mengiyakan ajaknnya itu. Setelah berjalan hampir 50 m an, ternyata ia mengajakku mencuri mangga milik tetangga dekat rumahnya. Memang benar sih, pemilik mangga tersebut agak pelit, tapi apakah memang begini cara untuk menyadarkannya. Batinku saat itu. Ya sudahlah kali ini saja kok. Gak papa. Ku langsung makan mangga itu setelah mengambil paksa dari pohonya. Itulah pengalaman pertamaku mencuri. Ku hanya bisa berucap Innii Akhoofullah. Ya Allah semoga Engkau memaafkan perbauatanku. Pintaku saat itu.
Mulai dari itu aku sering coba-coba mencuri. Dan akhirnya ketagihan juga. Bahkan lambat laun ku tak lagi merasa berdosa jika melakukan hal itu. Mulai mencuri buah, sandal hingga menjambret tas dipasar pun pernah ku lakoni. Suatu hari aku berkeingianan untuk mencuri di pondok. Mungkin pikiranku saat itu, banyak barang-barang berharga, apalagi ditanggal-tanggal muda seperti saat itu. Pasti banyak santri yang baru dapat kiriman dari orang tuanya. Jauh-jauh hari sudah ku rencanakan. Bagaimana prosedur mulai ku bergerak menjalankan misiku nanti. Lewat pintu mana, apa saja yang akan ku curi sudah ku planing matang.
Tiba saatnya hari itu. Ku mulai berjalan pelan menuju pondok itu. Mungkin jarak dari rumahku sekitar 100 m an. Pondok Darun Najah namanya. Pondok yang bernasib malang karena menjadi saksi bisu kenakalanku. Selangkah demi langkah ku gerakkan kaki ku ini menuju pondok itu. Ku buka pelan-pelan daun pintu gerbang itu. Mataku terus mengawasi kanan kiri. Beruntung dugaanku tepat. Ku beraksi saat jam kegiatan. Jadi pondok sepi. Tak ada satu pun santri yang masih diluar. Semuanya berkumpul di Auditorium. Pengajiannya Pak Kyai mungkin.
Ku Segera masuki kamar paling depan. Sandal mulai kulepas. Dari kiri tentunya. Ku pandangi seisi ruangan yang agak sempit itu. Ya mungkin hanya dua kali besarnya dengan kamarku. Ku dapati beberapa kotak berjajar rapi. Kira-kira ukaran per kotaknya 30 cm an. Setelah ku dekati ternyata semuanya di gembok rapi. Tinggal kotak-kotak yang ada diatasnya yang terbuka. Karena memang kotak-kotak itu tak ada daun pintunya. Satu persatu ku geledah. Sempat ku temumukan sebungkus rokok di kotak paling pojok. Ku langsung melangkah untuk mengambilnya. Setelah ku buka ternyata tak ada sebatang rokok pun di bungkus rokok itu. “Sialan, emang dasar santri gak punya apa-apa,” batinku saat itu. Hampir 10 menit aku di kamar itu. Namun belum kudapati barang berharga yang bisa ku bawa pulang. Ku terus menggeledah.
Mataku tertuju pada beberapa kertas bertuliskan arab. Kuning warnanya. Ku pelototi dan membolak-balik sampulnya. Sedikit demi sedikit ku mulai mengeja nama kitab itu. “Oh ini tho kitab yang sering digunakan para santri untuk mengaji,” batinku. Mungkin itulah yang namanya kitas salaf. Ku lebih suka menamainya kitab salaf dari pada kitab kuning. Mungkin karena kuning lebih identik dengan warta kotoran manusia. Mungkin. Lalu ku buka lembaran itu. Ku mencoba untuk membacanya. Namun, memang dasar namanya maling, mana mungkin bisa membacanya.
Hari pun hujan. Awan mendung hitam pekat menyelimuti langit saat itu. Tetes demi tetes air berjatuhan. Aku semakin gusar. Tak satupun barang barharga kuambil. Hanya beberapa kitab yang kuambil tadi. Pengajian di Auditorium pun kelihatannya hampir usai. Aku makin was-was. Rasa takut begitu menyelimuti hatiku. Takut dipergoki para santri. Saat itu juga, tanpa berfikir panjang, langsung kubawa apa yang yang ada di depanku. Langsung ku terobos hujan deras yang terus mengguyur tubuhku. Ku meloncat, melewati gerbang dan terus berlari melawan derasnya hujan. Dan akhirnya Alhamdulillah sampai juga dirumah dalam keadaan selamat. Bagaimaman jika tadi aku dipergoki para santri. Bisa-bisa babak belur sekujur badanku.
Setibanya dirumah, ku taruh barang bawaanku dari pondok itu di meja kamarku. Setelah ku cek ternyata hanya beberapa lembar kertas berwarna kuning. Tak ada yang lain. Itupun telah basah kuyub terkena air hujan. Seketika itu, tanpa menenggu lama ku jemur kertas-kertas yang gak ku mengerti bacaanya itu. Ku taruh lembaran-lembaran itu di genting atap rumahku.
Ditengah tidur pulasku ku terbangun kaget. Beberapa kali tekukan pintu terdengar. Mungkin ada tamu. “Assalaamu`alaikum.......”, “Assalaamu`alaikum....,” Ku langsung bangun mendekati daun pintu dan membukanya. Belum sempat ku bertanya siapa dan dari mana asalnya, ia langsung mencium tanganku. “Pak Ustasz ini saya disuruh pak bupati untuk mencarikan pengganti guru agama buat anak beliau,” Ujarnya sopan. “Lha kenapa guru sebelumnya,” gayaku sok menyambung pembicaraannya. Padahal sangat tidak mungkin jika aku menjadi dan dipanggil Pak Ustadz. “Guru yang lama pindah rumah tadz. Dan setelah berhari-hari saya mencari guru pengganti, kebetulan saya melewati rumah ustadz ini, dan melihat banyak berjejer kertas-kertas kitab salaf, seketika itu aku langsung berpikir mungkin inilah rumah ustadz yang di tunjukkan Allah padaku.”
“Gimana tadz, bisakan besok kerumah pak lurah buat ngajar anak beliau.” Bayanganku terus tertegun mendengar pernyataan itu. Lha kok bisa orang seperti ku ini dipanggil Ustadz, batinku saat itu. “Ya langsung saja tadz, kalau Ustadz bersedia besok langsung saja datang ke pendopo kabupaten, di sana anak-anak Pak bupati termasuk anak-anak pejabat lainnya sudah siap diajar Ustadz.” Entah kenapa bibirku saat itu langsung mengiyakan saja. Tanpa memikir ke depannya bagaimana. Apa boleh buat. Pikiranku saat itu hanya bermodal nekat. “Masak nyopet saja berani nekat, di suruh jadi Ustadz kok gak berani nekat,” pedomanku saat itu. Itu saja Modalku. Nekat. Gak ada yang lain. Lha Bagaimana. Baca saja gak bisa, mana mungkin mau mengajarkannya.
Setelah tamu itu pulang, ku langsung pergi kerumah Pak Halim. Beliau adalah guruku saat aku masih kecil. Beliau lulusan pondok Sarang. Tepatnya pondok MUS. Singkatan dari Ma`hadul `Ulumisy Syar`iyyah. Tak perlu diragukan lagi kredibelitas keilmuan beliau. Tanpa ragu-ragu ku langsung bicara apa maksud tujuanku. Yakni minta diajari kitab yang besok akan ku ajarkan pada anak-anak Pak Lurah. Dan akhirnya beliau pun bersedia. Waktu ngajinya yaitu setiap hari Senin , Rabu dan Sabtu. Tepat satu hari berselang sebelum materi yang kuterima dari beliau ku ajarkan pada anak-anak Pak lurah.
Imriti, Taqrib dan juga Bad`ul Amali terus ku pelajari. Hari demi hari terus seperti itu. Menimba ilmu dulu lalu langsung mengajarkannya. Sampai berbulan-bulan dan Bertahun-tahun. Terus seperti itu. Dan akhirnya aku mulai terbiasa membaca kitab. Bahkan sampai kitab Fathul Mu`in pun ku sekarang agak bisa membacanya. Padahal mitosnya, siapa yang bisa baca kitab Fathul Mu`in serta bisa menerangkan dan mencontohkannyan, maka tak diragukan lagi kalu ia adalah kiai, penerus para Nabi. Itulah yang sering diucapkan guru-guru ku bahkan kakek-nenek ku saat aku masih kecil. Aku hanya bisa mensyukuri hal itu.
Subhaaanallah. Maha suci Allah. Begitu besar hidayah yang Engkau berikan padaku ini. Dulu maling , sekarang Ustadz. Mungkin inilah yang namanya barokah, bertambahnya suatu kebaikan. Barokah sebab ku muliakan Kitab salaf. Kitab Ulama` penuntun ummat. Ku muliakan kitab itu dengan menjemurnya diatap rumah. Tidak lantas menaruhnya dibawah atau bahkan membuangnya. Dan mungkin sebab ku jemur itulah yang malah membuat ku mendapat hidayah dan inayah Allah Subhaanahu Wa Ta`ala.
Aku berfikir. Lalu bagaimana dengan santri-santri yang setiap harinya berjibaku dengan kitab-kitab salaf dan bahkan mereka tak berani menaruh kitab di tas gendongannya. Bisa dibayangkan seperti apa kelak barokahnya.